A Fever and a Male Nurse

Pening, demam tinggi, tenggorokan sakit, batuk - batuk, hidung meler and monthly pain (come on, you know what I mean).

Sesekali dia menempelkan tangannya yang dingin itu ke dahi (’bukan aku yang tangannya dingin, tapi demam kamu yang tinggi banget!’), mengecek suhu tubuh gua yang terus naik turun. Membelikan gua bubur (dan perjuangan dia untuk nyari bubur di sore hari sampe ke Dago berakhir setelah sekian suap. ‘eneg.’), membelikan kue putu yang masih panas (dan jangankan disentuh, komentar gua cuma ‘kok kue putunya gak ijo sih?’). Sesekali tatapan khawatirnya mampir ke arah gua. Sedih karena gak bisa ngapa - ngapain buat bantu katanya, which is SO not true.

Come on.

Menggenggam tangan gua yang hot - hot - hot itu udah lebih dari cukup untuk membuat gua merasa nyaman. Menyandarkan kepala gua yang terasa berat ke bahu lo udah lebih dari cukup untuk bikin gua lupa sama pening gua sesaat. Dan buat orang sakit, yang terpenting mereka merasa nyaman kan? =)

2 Responses to “A Fever and a Male Nurse”

  1. aligo Says:

    ibu galak..aduh ternyata anda romantis ya..ahahaaaha

  2. i r n a r a l e Says:

    ah, shushhhhh!!!

Leave a Reply