Dan Yang Disayang Itu Selalu Dipanggil Lebih Dulu…
Tuesday, April 17th, 2007Sepanjang jalan ke Ciparay hujan masih turun sedikit - sedikit. Berbekalkan petunjuk gua yang lupa - lupa ingat, Honda Jazz biru metalik itu terus melaju. Perbincangan di dalam mobil terdengar tidak penting. Soal rumah kecengan Filiks dulu yang rumahnya di Bale Endah, sampai mengapa banyak orang membenci Paris Hilton. Sesekali pembicaraan kami disela dengan pertanyaan ‘Na, lo yakin ini jalannya?’, dari Filiks. Tidak ada yang penting. Tidak ada yang serius. Tidak ada pembicaraan tentang filsafat seperti malam sebelumnya. Tidak sedikit pun terlontar tujuan dari perjalanan kami. What are we doing in the middle of nowhere past Maghrib then?
Well, mengantar salah satu guru terbaik kami. Ke peristirahatannya yang terakhir, sayangnya.
Beliau… seperti ayah kedua bagi Filiks. Salah satu paman yang paling gua sayang bagi gua. Dalam tangisnya di depan makam, Filiks terus bergumam, ‘ kalau Dia gak ada, entah gua jadi apa.’. Gua masih ingat betapa bangganya beliau ketika gua diterima di ITB. Gua masih ingat ketika beliau dengan serius mewawancarai pacar kakak gua dan memberi anggukan tanda setuju. Gua masih ingat beliau sering mengusap - usap kepala gua dengan bangganya setiap kali bertemu. Juga, di saat terakhir, beliau masih sempat menanyakan bagaimana kuliah gua. Dan gua pun sadar, betapa sayangnya beliau pada kami semua.
Gua yakin paman gua orang yang baik. Beliau berhasil mendidik anak - anaknya untuk menjadi anak yang baik. Kedua sepupu gua adalah cucu nenek gua yang paling manis. Mungkin beliau bukan figur yang bisa dicontoh, namun beliau orang baik. Itu gua yakin.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup gua, gua ngeliat sepupu gua nangis. Hanya sekejap, tapi ia menangis. Dan gua pun malu, melihat setelah itu ia masih terus tesenyum, bahkan menanyakan perihal pacar gua yang sumpah seharusnya tidak disinggung hari itu. Sama malunya seperti saat ibu Filiks meninggal, dan Filiks malah menawarkan saputangannya ke gua -padahal ia sendiri BUTUH saputangan itu. Gua merasa malu. Padahal bukan gua yang kehilangan ibu, bukan gua yang kehilangan ayah. Gua belum bisa setegar itu.
Kami orang terakhir yang pergi. Katanya, 40 langkah setelah orang terakhir meninggalkan makam, malaikat akan datang bertanya. Gua cuma bisa kirim doa, dan membantu sepupu gua dengan apa yang gua bisa. Dan…memperbaiki diri gua pelan - pelan. Mencoba menuntaskan janji gua pada paman gua semasa beliau masih hidup.
Dan yang disayang itu selalu dipanggil lebih dulu…