Megalomaniak

Gua lebih suka sama tulisan orang - orang yang desperate-bisa-jadi-beliau-besok-bunuh-diri ketimbang tulisan megalomaniak-sok-tau-minta-dikemplang. Mungkin karena gua tipe manusia yang rentan depresi. Mungkin.

It’s MIKA, not May’ke. Dengerin lagunya yang bener dong. Apa gunanya bang Mika nangkring di MTv?

The bitches are back.

Yah, bukan berarti gua menyebut bahwa kami adalah manusia dengan dandanan paling oke sedunia. But I adore Prisya’s style. Lagipula, kalo otak gua lagi beres, kalo fashion sense gua lagi jalan, kalo waktu yang dialokasikan untuk milih - milih baju cukup, gua bisa menuai cukup banyak pujian akan dandanan gua hari itu. Kalo. And both of us is an avid follower of fashion. Maka, ketika sore itu kami berdua nongkrong di tepat paling hip kedua setelah Senayan City (baca : PE I MOL DUA), mau gak mau radar fashion kami bekerja.

Pendapat pertama setelah scanning selama beberapa saat adalah, betapa gadis - gadis muda yang lalu - lalang gayanya sungguh gogirl! berat. Seragam. Membosankan. Tidak variatif.

Lalu muncullah segerombolan anak seusia SMP yang dengan sialnya duduk disebelah kami. Mata gua udah mulai lirik - lirik, idung gua kembang kempis, dan ketika pandangan gua bertemu dengan pandangan Pippi, serentak kami berkata : "Oh My God."

Yes. Oh My Freaking God.

ADA APA DENGAN ANAK SMP JAMAN SEKARANG?????

Ada yang merokok. FYI ya adik kecil yang manis, merokok itu gak keren. Ulangi bersama saya : TIDAK KEREN! Tahukah kamu dampaknya pada gigi, kulit, rambut? Gak tau? Tanya sama guru biologi sono! Dan ketika di usia sebelia itu kamu sudah merokok, maka ketika kamu mencapai usia saya, kamu akan terlihat seperti pertengahan duapuluhan. Mau? Gua mah ogah!

Lalu ya adik - adik, badan kalian masih akan tumbuh kok. Kalau kebetulan dada kalian belum (kemungkinan juga tidak akan) sebesar Lindsay Lohan atau ScarJo, tidaklah perlu memakai padded bra. Janganlah menarik perhatian kepada sesuatu yang tidak ada. What? You wanna get those slimy boys attention to your breast, huh? Belum waktunya Sayang, belum. Kalaupun sudah tiba waktunya, carilah push-up bra yang padnya dibagian bawah, bukan dibagian atas. Kalau tidak, hasilnya akan seperti kalian ini, terlihat jelas kopong tidak terisi.

And then honey, capitan rambut plastik kuning lusuh itu, kalau memang dirimu sebegitu ingin terlihat seperti gadis dewasa, mbok ya dicopot dari rambut. Lamun dandanan maneh jiga barudak es de wayah kapan mah pantes!

Oh iya, satu lagi, memakai suatu barang ‘branded’ yan ketauan palsunya, it’s a big fashion don’ts. Ini juga berlaku untuk banyak orang diluar sana. Berhentilah memakai barang palsu yang kentara palsunya! Ada orang - orang seperti saya yang bisa dengan mudah mengetahui bahwa Chanel quilted bag yang kamu bawa itu abal - abal, atau bahwa Louis Vuitton yang kamu tenteng itu keliatan banget palsunya. Prinsipnya, merek itu gak perlu! Yang penting up to date, kualitas bagus, dan nampak mahal. Tapi gak harus mahal! For fuck sake, you could opt for Utopia’s bag instead of buying some fake Anya Hindmarch’s bag. It’s the same price, you morons!

HHHHHHHHHHHHH!!!!!!

Lalu - lalu, mengingat betapa sekarang gua harus dandan untuk sekedar beli roti berserta pemanisnya. Jaman PIM 2 belum ada, gua bisa pergi dengan baju belel, rambut awut - awutan, plus sendal jepit. Gak usah khawatir ada gadis - gadis yang melakukan scanning gaya seperti yang gua dan Pippi lakukan kemarin. Bliss. Sekarang, kalo gua dandan nanggung (baca : dandanan kekampus, ensemble polo shirt + jeans + sepatu converse dan cuma bawa - bawa dompet doang) gua bakal digangguin satpam gara - gara disangka PRT. Apalagi kalo sambil nenteng - nenteng kantong Hero. Monyet. Jaman dulu mana ada kejadian begini?

Kangen masa - masa itu. Mungkin gua akan mulai cuek lagi. Nangkring di kafe hip dengan dandanan lecek dan buku ditangan. Mengacungkan jari tengah pada para satpam yang kurang ajar. Membalas tatapan dari atas - kebawah yang penuh hinaan dengan Arale’s smirk yang paling jahat. Bergossip tanpa peduli manner. Ngeunah pisan.

By the way, berdasarkan pengamatan gua, orang - orang megalomaniak cenderung berteman satu sama lain.

3 Responses to “Megalomaniak”

  1. N A D Y A Says:

    HUAHAHAHAHAHAHAA…,
    gw emang suka baca tulisan lo ‘le!
    lagi-lagi soal rokok, memang pethatic yah para perokok itu…,hahaha…saya tidak tega melihat ada anak smp merokok. kalo saya yang liat, mungkin saya sudah menangis di tempat *berlebihan…=p

    soal habit anak2 smp itu???
    ooowwwww…sungguhkaaaaahhh????
    hahahahahahaa…
    sungguh fashionista!

  2. i r n a r a l e Says:

    makanya Nad, si Gio-gio disuruh berhenti dong… aduin ke Mamah Rini ajah, atao black mail ke Pak Intan… XP

    sungguh…sungguh… harusnya dirimu melihat seperti apa anak SMP jaman sekarang… gua sampe mikir segitu cupunyakah gua ketika SMP dulu kalo dibandingin sama mereka… >o

  3. Onan Says:

    peace, bener tuh, jangan mencoba rokok, kayak saya waktu SMP dulu tuh, nyoba sekali eh langsung kecanduan. Liat wajah saya nih, rusak (sebetulnya tanpa rokok juga tetep rusak), ancur, gigi kuning, badan ceking, bibir item wah parah lah. Selewat kalo liat saya kayak calo dipinggir jalan yang kerjaannya malakin orang.

    Anak2x, jangan lakukan ini dirumah. Berbahaya.

    Eh salam kenal ya.

Leave a Reply